Back to Articles
SCIENCE

Apa yang Terjadi Saat Kulit Terlalu Sering Dieksfoliasi?

Eksfoliasi yang terlalu sering dapat melemahkan skin barrier, meningkatkan sensitivitas, dan mengganggu keseimbangan alami kulit

June 2, 2026
3 min read
3 views
Apa yang Terjadi Saat Kulit Terlalu Sering Dieksfoliasi?

Eksfoliasi sering dianggap sebagai salah satu langkah penting dalam skincare. Ketika sel kulit mati terangkat dengan baik, kulit biasanya terlihat lebih cerah, terasa lebih halus, dan produk perawatan menjadi lebih mudah menyerap. Namun, seperti banyak hal dalam perawatan kulit, sesuatu yang baik tidak selalu menjadi lebih baik ketika dilakukan terlalu sering.


Banyak orang mulai mengenal eksfoliasi melalui rekomendasi media sosial atau pengalaman orang lain. Ketika melihat kulit tampak lebih bersih setelah menggunakan exfoliating toner atau serum tertentu, muncul keinginan untuk mengulang efek tersebut sesering mungkin. Dari sini, frekuensi penggunaan perlahan meningkat tanpa benar-benar memahami bagaimana kulit meresponsnya.


Masalahnya, kulit memiliki batas toleransi yang berbeda pada setiap orang. Ketika proses pengangkatan sel kulit mati dilakukan terlalu agresif atau terlalu sering, lapisan pelindung alami kulit mulai mengalami tekanan. Dari sinilah berbagai masalah yang awalnya tidak ada mulai bermunculan.


Baca Juga: Kenapa Produk Bagus Tidak Selalu Bisa Konsisten?


Eksfoliasi Berlebihan Membuat Skin Barrier Kehilangan Keseimbangan

Secara alami, lapisan terluar kulit berfungsi sebagai pelindung yang menjaga kelembapan sekaligus membantu menghadapi faktor eksternal seperti polusi, perubahan cuaca, dan iritan. Lapisan ini dikenal sebagai skin barrier dan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan kulit.


Ketika eksfoliasi dilakukan sesuai kebutuhan, proses regenerasi kulit dapat berjalan lebih optimal. Namun, ketika sel-sel pelindung ikut terangkat terlalu cepat dan terlalu sering, skin barrier mulai kehilangan kemampuannya untuk bekerja secara efektif. Akibatnya, kulit menjadi lebih rentan terhadap berbagai gangguan.


Salah satu tanda yang paling sering muncul adalah rasa perih saat menggunakan produk yang sebelumnya terasa aman. Pelembap yang biasanya nyaman tiba-tiba terasa menyengat, sementara produk dengan bahan aktif ringan mulai memicu kemerahan. Kondisi ini sering membuat orang mengira mereka mengalami alergi baru, padahal masalah utamanya berada pada barrier yang sedang melemah.


Dr. Zoe Diana Draelos dalam Journal of Cosmetic Dermatology [2018] menjelaskan bahwa gangguan pada skin barrier meningkatkan sensitivitas kulit terhadap faktor lingkungan maupun produk perawatan yang digunakan sehari-hari. Karena itu, kulit yang terlalu sering dieksfoliasi biasanya menjadi lebih reaktif dibanding sebelumnya.


Selain rasa sensitif, kulit juga dapat kehilangan kelembapan lebih cepat. Air yang seharusnya dipertahankan di dalam kulit menjadi lebih mudah menguap. Dari sini, wajah mulai terasa kering, tertarik, atau justru memproduksi minyak berlebih sebagai bentuk kompensasi.


Baca Juga: Mengapa Kulit Bisa Tetap Kusam Meski Sudah Skincare-an? 


Kulit Tidak Selalu Meminta Lebih Banyak Eksfoliasi

Banyak orang menganggap kulit kusam atau munculnya tekstur kecil sebagai tanda bahwa eksfoliasi perlu ditambah. Padahal, dalam beberapa kondisi, gejala tersebut justru muncul karena kulit sedang mengalami stres akibat eksfoliasi yang berlebihan. Dari sini, solusi yang dipilih sering malah memperburuk keadaan.


Dalam The Skin Type Solution [2006] Dr. Leslie Baumann menjelaskan bahwa penggunaan bahan aktif yang terlalu agresif dapat mengganggu keseimbangan alami kulit dan memperpanjang proses pemulihan barrier. Karena itu, frekuensi penggunaan selalu perlu disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing.


Hal lain yang sering tidak disadari adalah munculnya kondisi ‘kering tapi berminyak’. Kulit terasa dehidrasi dan tidak nyaman, tetapi pada saat yang sama wajah terlihat lebih mengilap dari biasanya. Ini terjadi karena kulit berusaha mengompensasi kehilangan kelembapan dengan meningkatkan produksi sebum.


Dr. Whitney Bowe dalam The Beauty of Dirty Skin [2018] menyoroti bahwa kesehatan kulit sangat bergantung kepada keseimbangan barrier dan mikrobioma alami kulit. Ketika lapisan pelindung terus mengalami tekanan, kemampuan kulit untuk mempertahankan stabilitas ikut menurun.


Banyak orang baru memahami pentingnya hal ini setelah menghentikan eksfoliasi untuk sementara waktu dan melihat kulitnya mulai membaik. Padahal, sejak awal, kulit sering sudah memberi sinyal lewat rasa perih, kemerahan, atau sensitivitas yang perlahan meningkat. Ketika sinyal tersebut mulai diperhatikan, perawatan biasanya menjadi lebih bijak dan tidak lagi berfokus pada prinsip ‘semakin sering semakin baik’. [][Rudi Tenggarawan/DRM]


Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi

Tags: #kulit sensitif #skin barrier #dermond #science skincare #eksfoliasi
Continue Reading

RELATED ARTICLES